Rabu, 11 Desember 2013

Selalu Gunakan Orang Ketiga

M
ulai hari ini, mencoba untuk menggunakan orang ketiga.
Mulai hari ini, kita sebut saja Arbi. Atau mungkin Arb saja juga bisa, tanpa bermaksud untuk ikut-ikutan dengan singkatan nama salah satu orang dinegeri ini yang sedang berusaha tenar untuk menjadi calon presiden tahun depan. Lastname lebih menarik sepertinya.

Selanjutnya, buatlah seakan-akan ini semua adalah dunia dongeng, yang bisa kita buat fiksinya. Diatur sesuka dan semaunya.

Seperti yang Arb tangkap dari beberapa novel Tereliye yang dibacanya-Arb mungkin bisa dibilang penyuka novel2 dan kalimat2 si akuntan yang nyambi jadi penulis novel itu. Shambazy, adalah salah satu tokoh yg disebut Tereliye dalam novel 'negeri para bedebahnya', kau taulah kalau Shambazy disana berperan sebagai warwatan yang punya kuasa dan dekat dengan tokoh utama. Pun dinegeri ini, Shambazy adalah wartawan senior salah satu media berita terkemuka ditanah air, namun tak bisa dengan mudah kita katakan novel itu kisah nyata. Itu tetap fiksi. Begitulah kira2 posisi Arb yang kumaksud.

Arb adalah satu dari jutaan anak di negeri ini. Kusut, tanpa masa depan kalau kau hanya melihat dari latar belakang dan letak geografis tempat tinggalnya. Dia tidak ajaib, tidak punya pensil ajaib yang bisa menjadi nyata setiap apa yg digambarnya, atau punya lampu ajaib. Tidak, Arb tidak demikian. namun cerita ini akan membawanya menjadi orang sangat terkenal atas segala produktivitasnya, Arb akan populer hingga dikagumi negara tetangga. Semakin tahun, nama Arb menjulang bak bola salju, namun dikepalanya hanya ada satu tujuan, dia tidak memikirkan sudah sejauh mana namanya disebut, Arb hanya peduli pada satu hal : rumahnya.

Triwulan kesatu tahun 1997, Arb mendaftar SD-sekolah pertama kali untuknya. Arb tidak disekolahkan di Taman Kanak Kanan (TK) saat itu. Sayang, Arb ditolak menjadi murid baru ditahun itu, alasannya karena masih terlalu muda dan belum bisa membaca.



#bersambung -








Read more

Minggu, 17 November 2013

Sebut Aku Dengan Satu Nama

Padahal yang kita pikirkan sama, namun kita telah menyebutnya berbeda. maka jika kita berpapasan di suatu waktu, tengoklah. Buat definisi yang sama. Jangan menggantungkan hal yang gak semestinya bersemayam tanpa kejelasan.

seperti aku yang menyebutya imperata, dan kamu menyebut hyndical.

Lagi, bahwa dilain sisi, kita punya penyebutan yang sama diatas defisnisi yg berbeda. sangat berbeda dan mungkin saja bertolak.

Uh ya, selagi yang kita kerjakan adalah sesuatu yang kita senangi, sungguh itu bukanlah pekerjaan. itu adalah hobby. Namun jika kita tidak menyukainya, maka disaat itulah kita mulai berfikir untung rugi. dan kita pasti paham sekali dimana posisi yang seharusnya kita isi.
Read more

Selasa, 27 Agustus 2013

Harus Semangat (lagi) !!!

Bukan soal kaya itu bisa beli apa saja, tapi lebih tenang untuk hidup dengan bahagia


Bukan soal sedih itu kalau kondisi miskin, tapi lebih karena kebersamaan lebih hangat


Sekarang, tidak ada parameter untuk itu. Bermuram durja.


Tidak ada hubungan.


Karena sekarang saja, aku sedang berbahagia ditempat yang mungkin terlihat amat menyedihkan


Dan besok, kalau kita tersesat ditempat gelap. Ingatlah, tidak harus kita sedih atas kondisi yang ada sekarang. Kita hanya perlu mengingat satu hal untuk bisa selalu bahagia, janji Tuhan kita yang akan membuat keadaan selalu lebih baik dan lebih baik lagi.


Aku mencintai keadaan ini. Perubahan ini. Tanah bumi Indonesia-ku ini. Dan semua sketsa kecil dari perjalanan hidup ku.


n3.jpg

Read more

Selasa, 18 Juni 2013

Gara-Gara Mahasiswa

source : waspada.co.id
17/06/13
Gara gara mahasiswa
Hari ini hotline berita menayangkan demonstrasi dimana-mana
Berbagai daerah saling memprihatikan
Banyak-banyakan massa

Apa yang mereka perbuat?
Mahasiswa itu demo atas kebijakan pemerintah yang akan menaikkan tarif bbm bersubsidi

Mereka turun kejalan
Atas nama mahasiswa
Atas nama rakyat Indonesia
Atass kepentingan bersama

Bangga dengan almamater masing-masing yang mereka kenakan
Sekali lagi, mereka turun ke jalan untuk batalnya kenaikkan BBM
Bangga menjadi bagian dari ribuan mahasiswa yang 'membela kebanaran'
Memekakkan suara lantang di mikrofon besar
Membuat barikade-barikade tangguh

Di satu daerah, universitas besar mengumpulkan massa mendemo kantor Gubernur
Ya Tuhaaaan. Padahal daerah itu beda pulau dengan senayan. Markas besar para pemilik keputusan
Demo itu mungkin menutup Jalan

maka mungkin saja,
puluhan lapak rakyat miskin yang berjualan mereka 'rampas'
puluhan kegiatan/transaksi rakyat kecil batal karena macet total
ibu-ibu panik akibat anankya hilang ditengah demo
keringat bapak-ibu petugas kebersihan kota semakin deras akibat sisa-sisa demo


Oh mahasiswa
jikalau pun jadi, keputusan naiknya bbm bukan tanpa alasan
Oh mahasiswa
mungkin saja kita hanya punya dua variabel untuk menolak mentah-mentah keputusan ini
Oh mahasiswa
sejauh apa kita mengerti materi perkuliahan, maka problem ini lebih dahsyat dibanding mata kuliah kita
Oh mahasiswa
kalau saja untuk memahami mata kuliah sulit, maka bagaimana mungkin kita mengerti problem nasional ini
Oh mahasiswa
kalau saja nilai ujian kita dapat skor C atau D, pantaskah kita menganalisis dan memutuskan pihak mana yang harus kita bela?
Oh mahasiswa,

semua tindakan kita belum tentu nyata
Tapi yang nyata, kita sudah buat rusuh negeri kita hari ini
kita sudah rusak banyak mata pencaharian rakyat yang harusnya kita bela

Aku setuju, kalau menang harus demo, maka tempat yang harus kita datangi cuma satu, Kantor DPR RI di senayan
Bukan membuat rusuh seluruh penjuru negeri ini. Sia-sia mahasiswa!
Tidakkah kita berfikir?

Maka cukuplah, cukuplah hari ini. jangan terulang lagi.
Ini bukan era '98
Dan kita, jauh dari kata-kata pantas untuk mengikuti jejak abang-abang kita terdahulu.
Kita harus masih banyak belajar, mahasiswa

#demoBBM

Read more

Kamis, 13 Juni 2013

Ancaman 9 Juta, Siapa Takut?

Seberapa tidak pentingnya waktu untuk mu?
Seberapa meremehkannya dirimu untuk semua urusan? menganggap kalau semua hal akan bisa beres dengan mudah, so santai-santai dulu tak masalah.
Seberapa peduli dirimu atas tugas-tugas dan deadline?

Ini salah satu variabel. bisa saja ancaman nanti akan lebih dahsyat, 18 juta misalnya.
Ini bukan masalah dirimu tidak pintar, bukan masalah dirimu tidak sanggup menelan mentah-mentah atau mencerna semua materi. Bukan masalah suka-tidak suka dengan hitung-hitungan ataupun dengan hapal menghapal. Sungguh ini hanya masalah apakah ancaman 9 juta ini masuk proyeksi mu selama ini Men.

Kita jelas tahu konsekuensi ini. Bahkan sebelum semuanya dimulai. Salahnya, megadeadline tidak pernah menjadi perhitungan buatmu. Saat kita punya waktu leluasa untuk memilih langkah, kau sama saja seperti diatas, meremehkan dan menganggap tidak penting.
Heey, 9 juta itu banyak. sekaya apapun orang tua kita. tidak ada yang menyangkal ini. kau bisa tanyakan ini sama bapak-bapak pemegang 10 urutan orang terkaya dinegeri kita. kalaupun ada yang bilang angka ini tidak ada artinya, maka masalahmu selesai, tinggal minta saja nominal itu ke orang yang bilang santai kehilangan 9 juta.

Kita anak-anak BUD men, Beasiswa Utusan Daerah. Masih ingat saat pengumuman penerimaan beasiswa ini? saat pertama kali mendengar namamu ada di deretan orang-orang yang beruntung ini? Mama Papa pasti bangga, berpikir kalau anakku akan kuliah tanpa biaya, Alhamdulillah. Heeeyyyy men, kalau sadar tidak kalau boleh jadi orang tua kita pernah mendesiskan kata ini dalam hatinya? Anakku kuliah gratis karena dapat beasiswa, sibuk memamerkan prestasi ini ke tetangga-tetangga, semua kagum Men. Maka apa jadinya kalau ternyata belakangan nanti kau datang dengan muka kusut dan melas minta 9 juta, cash tanpa dicicil untuk penambahan masa kuliah. Heeeey men, apa gunannya? 9 juta itu setara dengan biaya kuliah 6 semester teman-teman kita yang gak bertitel BUD.

Men, apa yang kau rugikan? kau menghabiskan uang cuma-cuma dan waktu mu men, pikirkan itu.
Men, aku hanya bilang ini untuk angkatanku 2010 dan adik-adikku. kita masih punya waktu, kalau saja segera buat megadeadline untuk bisa hengkang dari kampus ini kurang dari 8 semester. Bukan hanya BUD-ku tapi semua BUD di kampus ini, BUD yang punya nasib sama.
Men, jangan anggap enteng, atau esok lusa kita akan diangggap enteng oleh siapapun. Buat semuanya berarti. Buat semuanya sukses. jangan berhenti  karena terjegal masalah.

Men, kau harus ikut SP kalau masih ada hutang kuliah. Kau harus kejar dosen kalau masih belum punya penelitian. Sekali lagi men, berhenti untuk uncare, u will be losing cause u're do.
bahkan kalau kau tidak peduli dengan dirimu sendiri, maka siapakah yang mau memberimu jalan?

Men, ini bukan dunia dongeng, yang setiap kenyataan akan sesuai dengan mimpi dikepala tanpa harus mengeluarkan berbulir bulir keringat. Celaka lagi kalau hari ini ada yang sudah pasrah akan menyerahkan dengan rela 9 juta-nya untuk nanti. kau bodoh men, maaf aku pakai kosakata ini.

Sudah berapa kali kau bertemu dengan dosen disini? Maka andai kau tau men, tidak semua dosen punya hati seperti yang kau anggap selama ini. Aku tau kau takut ketemu dosen karena ngeri dengan ceramahnya, omelannya, atau semua alasan yang membuatmu malas dengan moment bertemu dosen. Kau harus percaya, ada dan pasti ada dosen yang baik disini, yang care dan sangat peduli denganmu. Selagi jika kita punya niat untuk berterus terang, semua mudah men.

Sama seperti aku. Kau dan yang lainnya.
Kita harus menbakar habis rasa takut dengan dosen, yang sungguh itu sebenarnya masalah sepele. Dosen PA ku sekarang temanku Men, aku pernah begadang sampai setengah dua malam untuk melakukan hal sepele, bukan tentang akademik apalagi penelitian, hanya ingin menyatukan chemistry.
Kau harus segera list hari ini. Kau harus menghabiskan semua sks di semester 7 nanti.
Kau harus segera penelitian di semester 7 nanti.
Kau harus mengikuti seminar kakak kelas untuk tau apa itu seminar.
Kau harus segera cari relevansi, literatur, tanya-tanya, apapun itu yang penting proposalmu jadi, mudahnya kau bisa ganti parameter saja dari penelitian syapapun yang kau comot. Next, lapor dosen. Kau harus pintar bicara dan jadikan dosen itu temanmu.

Ini cuma variabel kedua Men, kau mungkin punya rumus yang lebih dahsyat. Atau kau yang baca ini bahkan udah dua tingkat dari yang aku tulis. Baguslah.
Katakan pada dunia Men, kau akan lulus normal. Bagaimana dunia akan mendoakanmu sementara dunia tidak tau, kau tidak bilang.
Semua butuh pengorbanan Men. Everything have sacrifices, bigger and bigger.

Salam perjuanangan.
Ikhwan goes to graduate on Mei 2014.

Read more

Sabtu, 08 Juni 2013

Saat ke Kota Bandung, Aku Lebih dari Remaja Papa

Gd. Sate - Bandung city
8/6/13. Aku sedang dihujani. Dilanda bencana. bencana untuk rasa kerinduan yang maha dahsyat, tak terlihat namun jelas-jelas ada dan terasa. Sekarang masih pagi buta, sejak tiga hari yang lalu aku berkunjung ke kota ini Pa, kota kembang. Mengendarai motor bersama kawan-kawan jurusan tempat aku kuliah. Kesini karena minggu ini adalah jatah libur untuk mahasiswa IPB sebelum berperang mneghadapi ujian minggu depan. Aku lebih memilih untuk berlibur dan pilihan itu ke kota ini, penat sekali menghadapi rutinitas super berat kota hujan.

Aku tak menyangka dulu saat masih kecil, kalau sekarang bisa melangkahkan kaki (hampir) kemanapun aku mau Pa. Asalkan keinginan itu ada, asalkan aku mau usaha, dan yang terpenting asalkan aku percaya aku bisa sampai kesana, itu sangat mungkin terkabul. Sejak kali pertama aku meninggalkan Balikpapan tahun 2009 ke Jatinangor, tahun selanjutnya aku menetap di Bogor setidaknya untuk empat tahun, menjalani masa perkuliahanku. Disini aku bangun mimpi Pa, hingga aku sudah pernah ke Bali, Jogjakarta, Jakarta, kota-kota kecil lainnya. bahkan pernah dua kali aku ke luar negeri. Ke Malaysia tahun 2011 dan 2013. Dan sekarang, kota ini adalah tempat persinggahankku. Kota Bandung.

 Aku ingin menjadi bujang Papa. Rindu itu membuncah-buncah setiap temanku memanggil kata 'papa' untuk ayahnya, rumah tempat aku menginap di Bandung. Tak terasa, sudah ribuan malam aku tak menyebut kata itu. Aku menangis, walau seperti biasa tangis tanpa tetesan. Tetap sama, menyedihkan. Dan kau tau Pa, Bandung itu mirip Balikpapan, beberapa jalan mengingatkan ku kepada hometown. Dan sudah ratusan malam aku sendiri di perantauan, ratusan malam tanpa dinding-dinding rumah, ratusan malam tanpa wajah orang-orang yang kucintai, ratusan malam juga untuk semuanya sebelum perjalanannku dimulai.

Aku sudah melewati masa remaja Pa. umurku 21 lebih. Aku dewasa Pa. Itu pikirku. Sudah tidak mungkin lagi bagiku untuk main kelereng, mengejar layangan, main tazos, kartu gambar, petak umpet, asinan, karena mungkin mainan itu sudah pada entah dimana, kini teman-teman sepermainan dulu juga sudah sibuk dengan urusan-urusan serius mereka. Siapa sangka Pa, aku pernah audiensi dengan Wakil Gubernur kita disatu ruangan dan hanya kami bertiga, Pak Wagub, Satu temanku, dan aku. atau akku pernah mendapatkan buku karangan pribadi milik Menteri Kesehatan RI, Siti Fadillah Supari didalam seminarnya yang kuhadiri, dan beberapa hal lainnya Pa, yang tidak mungkin dialami anak remaja kecil nan tanggung seperti aku dulu. 

Aku dalam kerinduan Pa. Terima kasih melahirkan ku. Terima kasih lebih sering mengajakku jalan dibanding kakak-kakakku. Aku tetap menjadi laki-lakimu Pa. Walau aku sudah lupa suaramu Pa :'( .Maaf aku jadi nakal Pa, sulit untuk mendidik diri sendiri. Sulit sekali Pa, tapi aku bisa. Aku sayang Papa.

Yang pasti masuk surga Allah. (Amiin)
Yang sedang menunggu yaumul ba'ats
Yang telah mengajarkan dan mendoakanku
Yang menjadi sejarah hidupku
Papa, Saleh.

:: Antapani, Bandung, Jawa Barat.
Read more

Rabu, 22 Mei 2013

Hari ini Kita Mulai Jenuh

source : davetheorganism.blogspot.com
Hari ini kebanyakan orang jenuh dengan kata mutiara. Beberapa motivator terkenal yang booming beberapa tahun belakang kini mulai meredup. Kenapa? mungkin saja kebanyakan orang ini bosan. Alasan logis karena hidup mereka tak kunjung berubah pasca mendengarkan petuah yang memang dahsyat itu. Akupun demikian blog, cita-citaku sampai semster 4 lalu adalah menjadi motivator terkenal. bermimpi kalau suatu saat akan menjadi penyemangat super dahsyat yang terkenal. Ah, memang cuma obsesi karena betapa gagahnya aku melihat para motivator itu.

Kau tau blog, aku punya pengalaman nekat. Suatu ketika aku pernah mengikuti seminar, di seminar itu juga ada acara AMT (achievement motivation training) yang diisi oleh salah satu motivator yang cukup terkenal. Setidaknya untuk wilayah Jabodetabek. Dia meninggalkan cp. Aku catat no hp beliau. Esoknya aku hubungi, ku bilang kalau saya juga ingin menjadi motivator. Aku ingin mendapat pelajaran-pelajaran menjadi motivator handal. Tolong berikan aku kesempatan untuk belajar bersama. Saya sungguh-sungguh. Itu yang aku katakan.

And you know, hari itu juga aku diberi alamat tempat dia memberikan pelatihan. Aku datang kesana. Belajar menjadi motivator sepertinya. Kerjaankku hanya duduk sampingnya, didepan laptop dan mematikan lampu saat momen-momen membuat nangis peserta kegiatan. At least, aku mengetahui dapur para motivator, beliau menyampaikan banyak saran dan trik. Itu pertemuan pertamaku, juga pelatihan pertamaku. dan kau tau lagi, itu juga adalah pertemuan terakhirku. 

Entahlah, semakin hari aku semakin jenuh. Jenuh dengan semua kata-kata itu. diulang-ulang. itu-itu saja. hanya benar-benar bermakna saat diucapkan motivator dengan backsound yang memikat. Yah, memang.

So. kita butuh apa sekarang. lagi-lagi entah.
Kita hanya butuh kita. Aku hanya butuh aku. Dirimu hanya butuh dirimu. Kalaupun butuh si penyemangat, maka itu adalah kita sendiri, atau orang-orang pilihan.

Semoga kita bisa segera keluar dari kungkungan kemalasan untuk berbuat. segera lepas dari ikatan negatif thinking. Dan segera bangkit, bergerak denga sejuta pangkat sejuta harapan positif. Salam damai dari Kandang. Yongss.
Read more

Social Profiles

Facebook

Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified